PERAN TARI DALAM PERSPEKTIF GENDER DAN BUDAYA
DOI:
https://doi.org/10.24235/equalita.v2i2.7136Abstract
Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan dan menjelaskan bagaimana peranan tari dalam perspektif gender dan budaya. Tulisan ini berangkat dari sebuah permasalahan yakni masih adanya pandangan stereotype gender tentang tari dalam pandangan masyarakat sosial. Pemahaman mengenai tari dalam sudut pandang masyarakat sosial masih menimbulkan pro dan kontra. Hal tersebut dikarenakan masih kurangnya rasa ingin tahu serta pemahaman terhadap tari itu sendiri, sehingga masih banyak yang menganggap bahwa tari hanya dapat ditarikan oleh wanita saja. Tari merupakan sebuah gejolak ekspresi manusia yang dituangkan ke dalam gerak ritmis yang indah, yang dapat ditarikan baik oleh laki-laki maupun perempuan. Dalam sebuah tarian memiliki tujuan dan fungsinya masing-masing. Â Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian studi literatur. Analisis data menggunakan metode deskriptif analisis dengan tujuan untuk mendapatkan sebuah analisis dari permasalahan yang diusung. Penelitian ini menghasilkan sebuah analisis yakni tarian adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan tidak memandang gender.
Kata Kunci : Tari, Gender, Budaya
References
Arons, M. (2007). Standing Up For Humanity: Upright Body, Creative Instability, and Spiritual Balance. In R. Richards (Ed.), Everyday Creativity (pp. 175–193). American Psychological Association.
Caturwati, E. (2008). Tari Kariaan. In E. Caturwati & S. Rustiyanti (Eds.), Tari Anak-anak dan Permasalahnnya (pp. 81–102). Sunan Ambu Press STSI Bandung.
Creswell, J. W. (2016). Research Design (4th ed.). Pustaka Pelajar.
Dibia, I. W., Widaryanto, F., & Suanda, E. (2002). Tari Komunal. Lembaga Pendidikan Seni Nusantara.
Goleman, D. (2015). Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional) (20th ed.). Gramedia.
Hermawati, T. (2007). Budaya Jawa dan Kesetaraan Gender. Jurnal Komunikasi Massa, 1(1), 18–24. https://doi.org/10.1111/j.1523-1739.2010.01600.x
Khutniah, N., & Eny Iryanti, V. (2012). Upaya Mempertahankan Eksistensi Tari Kridha Jati Di Sanggar Hayu Budaya Kelurahan Pengkol Jepara. Upaya Mempertahankan Eksistensi Tari Kridha Jati Di Sanggar Hayu Budaya Kelurahan Pengkol Jepara, 1(1), 9–21. https://doi.org/10.15294/jst.v1i1.1804
Koentjaraningrat. (2011). Pengantar Antropologi I (4th ed.). Rineka Cipta.
Moleong, L. J. (2014). Metode Penelitian Kualitatif (33rd ed.). Remaja Rosdakarya.
Polhemus, T. E. D. (1993). Dance, Gender and Culture. Dance, Gender and Culture, 3–4. https://doi.org/10.1007/978-1-349-22747-1
Putraningsih, T. (2000). Sebuah Kajian Perspektif Gender. Imaji, 4(1), 20–31. https://staffnew.uny.ac.id/upload/132061380/penelitian/Jurnal+Tr+Perspektif+gender.pdf
Sarwono, S. W. (2013). Psikologi Lintas Budaya. In ウイルス (2nd ed., Vol. 52, Issue 1). Raja Grafindo Persada.
Subiantoro, I. H. (2008). Komposisi Tari Laku Kreatif Terhadap Penciptaan Tari Anak. In E. Caturwati & S. Rustiyanti (Eds.), Tari Anak-anak dan Permasalahnnya (pp. 35–60). Sunan Ambu Press STSI Bandung.
Sujarwa. (2014). Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (3rd ed.). Pustaka Pelajar.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2024 Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.
Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).