MEDIA SOSIAL DAN BUDAYA SELEBRITI MILENIAL DI INSTAGRAM
DOI:
https://doi.org/10.24235/orasi.v13i1.9502Keywords:
Etnografi Virtual, Budaya Selebriti, Sosial MediaAbstract
Tujuan penelitian ini yaitu untuk menjabarkan nilai-nilai pesan yang ditampilkan oleh entitas dalam media sosial. Media sosial merupakan representasi simulasi sosial yang terjadi karena adanya relasi dari berbagai tanda maupun kode acak, yang tidak memiliki relasional jelas secara nyata, diciptakan melalui kegiatan produksi melalui tanda-tanda abstrak dan semu. Di media sosial, orang tidak mampu mengenali yang asli atau nyata dan yang bukan asli alias palsu. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakatn metode etnografi virtual. Berdasarkan dari hasil penelitian, ditemukan bahwa kehadiran media sosial mampu membuat para penggunanya memproduksi pesan-pesan kepada khalayak. Pesan-pesan diproduksi sesuai dengan selera dan kemauan para pengguna Instagram tersebut. Banyak faktor yang mendorong pengguna Instagram memproduksi pesan di media sosial, misalnya sebagai bentuk representasi keberadaannya agar diakui oleh pengguna lainnya. Untuk itu, pengguna Instagram memrpoduksi nilai tanda melebihi dari realitas sebenarnya (hiperealitas). Nilai-nilai yang terkandung pada pesan yang disajikan pun memiliki maksud dan tujuan tersendiri, seperti: nilai-nilai hedonis, yaitu nilai-nilai yang mencerminkan kemewahan. Kemewahan yang ditampilkan sudah menjadi ideologi pengguna Instagram. Mereka seperti tidak bisa diakui kelompok dan lingkungannya ketika mereka tidak mampu menunjukkan kemewahan pada akun Instagram miliknya.References
Barker, Chris. 2011. Cultural Studies: Teori Dan Praktik. Penerjemah. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka.
Baudrillard, Jean. 1994. Simulacra and Simulation. Michigan: University of Michigan Press.
Baym, Nancy K. 1998. The Emergence of On-Line Community. In Cybersociety 2.0: Revisiting Computer-Mediated Communication and Community, 35“68. Sage Publications, Inc. https://doi.org/https://doi.org/10.4135/9781452243689.n2.
Berger, Arthur Asa. 2010. Pengantar Semiotika Tanda-Tanda Dalam Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Blossom, John. 2009. Surviving and Thriving as Social Media Changes Our Work, Our Lives, and Our Future. Indianapolis: Wiley Publishing, Inc.
Denzin, Norman K, and Yvonna Lincoln. 2011. Disciplining the Practice of Qualitative Research. In The SAGE Handbook of Qualitative Research.
Liliweri, Alo. 2016. Konfigurasi Dasar Teori-Teori Komunikasi Antar Budaya. Bandung: Nusa Media.
Nasrullah, Rulli. 2012. Komunikasi Antarbudaya Di Era Budaya Siber. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
”””. 2017. Etnografi Virtual Riset Komunikasi, Budaya, Dan Sosioteknologi Di Internet. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Neuman, W. Lawrence. 2006. Social Research Methods: Gualitative and Quantitative Approaches. 6th ed: in. Boston: Pearson Education, Inc.
Patton, Michael Quinn. 2002. Qualitative Research and Evaluation Methods. Thousand Oaks. Cal.: Sage Publications.
Ronda, Andi Mirza. 2018. Tafsir Kontemporer Ilmu Komunikasi - Google Books. Jakarta: Indigo Media.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2022 ORASI: Jurnal Dakwah dan Komunikasi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Copyright Notice
An author who publishes in the Orasi: Jurnal Dakwah dan Komunikasi agrees to the following terms:
- Author retains the copyright and grants the journal the right of first publication of the work simultaneously licensed under the Creative Commons Attribution 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal
- Author is able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book) with the acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Author is permitted and encouraged to post his/her work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of the published work (See The Effect of Open Access).