Kajian Keruangan Penempatan Lokasi Masjid Agung Cipaganti di Kawasan Permukiman Kolonial Belanda Bandung
DOI:
https://doi.org/10.24235/tamaddun.v13i1.20517Keywords:
Mosque, Colonial Settlement, Meso Micro Scale Space, Gemeente, Bandung.Abstract
The Cipaganti Grand Mosque is located in the Cipaganti area of North Bandung. It was designed by Prof. Ir. C.P. Wolff Schoemaker and established in 1933, during the period when Bandung was designated as a gemeente (between 1906–1940). This study aims to explore the background behind the location of the Cipaganti Grand Mosque within a Dutch Colonial residential area and to understand the mosque’s status. This is important in order to identify patterns in the placement of places of worship/mosques in colonial settlements, as well as the relationship between the Cipaganti Grand Mosque and the local community in the colonial residential area, and with other religious buildings in the Cipaganti area. The study focuses on spatial aspects at a semi-micro/meso scale, using a descriptive-analytical method and inductive reasoning. The core idea of this research identifies three factors that influenced the location of the Cipaganti Grand Mosque. First, the establishment of the mosque within a Dutch Colonial residential area was influenced by the ethical policy and association policy. Second, it served to meet the religious needs of the Muslim community living in the Cipaganti area. Third, it functioned as a supporting facility for worship for employees working in near by institutions or agencies.
Keywords: Mosque, Colonial Settlement, Meso/Semi-micro Scale Space, Gemeente, Background of Position, Status, Bandung.
Abstrak: Masjid Agung Cipaganti terletak di kawasan Cipaganti Bandung Utara yang dirancang oleh Prof. Ir. C.P. Wolff Schoemaker dan didirikan pada tahun 1933 ketika Kota Bandung menjadi gemeente (antara tahun 1906-1940). Penelitian ini bermaksud untuk menjawab apakah yang melatarbelakangi letak Masjid Agung Cipaganti pada Pemukiman Kolonial Belanda dan bagaimana status masjid tersebut. Hal ini penting untuk mengidentifikasi pola penempatan tempat ibadah/masjid di permukiman kolonial, hubungan Masjid Agung Cipaganti dengan masyarakat di permukiman kolonial dan dengan bangunan keagamaan lainnya di kawasan Cipaganti. Kajian dalam penelitian ini berkaitan dengan aspek spasial skala semi mikro/meso dengan metode deskriptif analitis dan alur penalaran induktif. Inti gagasan dari penelitian ini terdapat tiga faktor yang melatarbelakangi keletakan Masid Agung Cipaganti. Pertama, berdirinya masjid ini di Permukiman Kolonial Belanda dipengaruhi kebijakan politik etis dan asosiasi. Kedua, untuk memfasilitasi kebutuhan ibadah masyarakat muslim yang bermukim di kawasan Cipaganti. Ketiga, sebagai fasilitas pendukung ibadah bagi para pekerja di instansi atau lembaga yang berdekatan dengan masjid.
References
Adiwirawan, Endro, “Relasi Spasial Antara Kegiatan Ritual Ibadah Berjamaah Dengan Arsitektur Mesjid Di Bandung Studi Kasus: Masjid Cipaganti, Masjid Salman, Dan Masjid Al Irsyad,” Jurnal Idealog: Ide Dan Dialog Desain Indonesia, 2.1 (2018). https://doi.org/10.25124/idealog.v2i1.1180.
Adrisijanti, Inajati, Arkeologi Perkotaan Mataram Islam (Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2000).
Afriananta, Beta, Perkembangan Tata Kota Gementee Magelang 1906-1942 (Yogyakarta: Skripsi Jurusan Ilmu Sejarah FIB UGM, 2006).
Badan Pusat Statistik Kota Bandung, Bandung dalam Angka (Bandung: Badan Pusat Statistik Kota Bandung, 2005).
Blaang, C. Djemabut (ed.), Perumahan dan Permukiman Sebagai Kebutuhan Pokok (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1986).
Boomgaard, Peter, A.J. Gooszen, Changing Economy in Indonesia: A Selection of Statistical Source Material from the Early 19th Century up to 1940. Vol. 11. Population Trends 1795-1942 (Amsterdam: Royal Tropical Institute, 1991).
Dana, Djefry W., Ciri Perancangan Kota Bandung (Jakarta: Gramedia Pusaka Utama, 1990).
Reiza D. Dienaputra, “Bandung 1906 – 1970: Studi Tentang Perkembangan Ekonomi Kota”, Artikel diunduh dari https://pustaka.unpad.ac.id/archives/86437#, (diakses pada tanggal 23 Mei 2025).
Fachrina, Zulva, “Masjid Raya Cipaganti, Heritage Kota Bandung Yang Memadukan Gaya Arsitektur Jawa Dan Eropa,” dalam Seminar Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 1, A393–98, (2017). https://doi.org/10.32315/sem.1.a393.
Iskandar, M. Syaom Barliana, “Tradisionalitas dan Modernitas Tipologi Arsitektur Masjid”. Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur, 32.2 (2004), 110 – 118.
Izzati, Husna, Andiyan Andiyan, Irfan Aldyanto, “Akulturasi Lintas Budaya Islam, Barat, dan Nusantara di Masjid Cipaganti Bandung”, Jurnal Al-Adabiya Kebudayaan dan Keagamaan, 16 (2021), 111-124.
Kunto, Haryoto, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (Bandung: PT. Granesia, 1985).
, Semerbak Bunga di Bandung Raya (Bandung: PT. Granesia, 1986).
Paramastri, Patricia Petty, Perkembangan Tata Kota Malang Masa Kolonial (1914-1940) (Yogyakarta: Skripsi Jurusan Ilmu Sejarah FIB UGM, 2002).
Prameswari, Dewi Retno, dkk., “Inventarisasi Bangunan Cagar Budaya: Masjid Raya Cipaganti Karya C. P. Wolff Schoemaker”, Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia, 10.1 (2021). https://doi.org/10.32315/jlbi.v10i01.16.
Rufidah, Eva, Perkembangan Kehidupan Keagamaan Masyarakat Perkotaan Bandung 1906-1930 (Yogyakarta: Tesis Fakultas Ilmu Budaya UGM, 2003).
Salim, Agus, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 2001).
Sharer, J. Robert dan Wendy A, Archaeology: Discovering Our Past (Boston: Mc Graw Hill, 2003).
Silas, Johan “Perjalanan Panjang Indonesia dalam dan Sekitar Abad XX”. Dalam Kota Lama, Kota Baru: Sejarah Kota-Kota di Indonesia Sebelum dan Setelah Kemerdekaan (Jakarta: Penerbit Ombak, 2003).
Staatsblad van Nederlandsch-Indie 1906 No.121
Subroto, Ph, ”Studi Tentang Pola Permukiman Arkeologi Kemungkinan-Kemungkinan Penerapannya di Indonesia”. Dalam Artikel PIA. (Jakarta: Puslitarkernas, 1995).
Suminto, H. Aqib, Politik Islam Hindia Belanda (Jakarta: LP3ES, 1996).
Suryo, Djoko, “Penduduk dan Perkembangan Kota Yogyakarta 1900-1990”. Dalam Kota Lama, Kota Baru: Sejarah Kota-Kota di Indonesia Sebelum dan Setelah Kemerdekaan (Jakarta: Penerbit Ombak, 2003).
Tim Penyusun. Masjid Kuno Indonesia. (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1999).
Tim Penyusun, “Membangun Manusia Bermartabat”. Dalam Profil Masjid Raya Cipaganti Kota Bandung Propinsi Jawa Barat (Bandung: Sekertaris Masjid Raya Cipaganti, 2004).
Yusuf Elba, Mundzirin, Mesjid Tradisional di Jawa (Yogyakarta: Nur Cahaya, 1983).
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Jurnal Tamaddun: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work