Interaksi Kyai Dengan Masyarakat Dalam Tafsir Al-Maraghi
DOI:
https://doi.org/10.24235/diyaafkar.v4i02.1152Abstract
Semakin terkikisnya ulama (kyai) yang menjadi panutan, membuat penulis merasa perlu menelisik lebih jauh relasi dan interaksi seperti apa yang sebaiknya dibangun, menurut al-Qur’an, antara seorang ulama dengan pejabat, masyarakat dan sesama kyai agar kehidupan dunia ini menjadi lebih baik. Tujuan penelitian ini ialah menjelaskan penafsiran al-Marâghî mengenai ayat-ayat interaksi antara: kiai dengan pejabat, kiai dengan kiai, dan kiai dengan masyarakat awam. Metode yang digunakan adalah metode dan library research. Kesimpulan yang didapat dari penulisan skripsi ini antara lain bahwa a.) Berdasarkan penafsiran atas QS al-Baqarah (2): 247, pemuka agama (kiai) tidak boleh termakan ucapan manis pejabat; harus selalu menjadi panutan pejabat, bukan sebaliknya, dan tetap menjalankan amar ma’ruf nahi munkar. Interaksi antara kiai dengan pejabat melalui kisah Nabi Samuel dengan pejabat Bani Israîl. b.) Berdasarkan penafsiran atas QS. Maryam (19): 53, al-Maraghi tidak menjelaskan panjang lebar mengenai interaksi antara Nabi Musa dengan Nabi Harun. Namun dari penjelasan al-Maraghi dapat ditemukan secara tersirat bahwa keduanya sama-sama Nabi yang menentang kezaliman saat itu. Interaksi antara Nabi Musa dengan Nabi Harun saling tolong menolong dalam berdakwah. c.) Berdasarkan penafsiran atas QS al-Taubah (9) 61, al-Maraghi menafsirkan interaksi antara Nabi Muhammad Saw. dengan masyarakat awam, al-Maraghi memberi perumpamaan dalam tafsirnya, bahwa orang yang yang menyakiti Rasulullâh sama dengan orang yang menyakiti kedua orang tuanya dan keluarganya khususnya kaum munafik yang menyakiti beliau. Kemudian, hal ini membuktikan bahwa al-Maraghi menganggap seorang Rasulullâh (baca: kiai) adalah juga orang tua mereka.
Â
Kata kunci: Interaksi, Kiai, Masyarakat.
References
Agus, Bustanuddin. 2006. Agama Dalam Kehidupan Manusia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Baihaqi. 1983. Agama dan Perubahan Sosial. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Bakar, Bahrun Abu. Terjemah Tafsîr Al-Marâghî. Semarang: PT. Toha Putra. Juz 2, 10, 16 & 30.
Bungin, Burhan. 2008. Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Departemen Agama RI, 1989. Al-Qurân dan Terjemahannya, Semarang: CV. Toha Putra.
Departemen Pendidikan Nasional, Ensiklopedi Islam,Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Cet. 10, Jilid 2, 3 & 5.
Dirdjosanjoto, Pradjarta. 1999. Memelihara Umat, Kiai Pesantren – Kiai Langgar di Jawa. Yogyakarta: LkiS.
Djuned, Daniel. 2011. Antropologi Al-Qurân. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Al-Ghazali, Muhammad Abi Hamîd. Ihyâ` ‘Ulûm ad-Dîn. Jilid 1. Beirut: Dar al-Ilmiyah.
Hadi, Sutrisno. 1995. Metodologi Reseasrch. Yogyakarta: Andi Offset.
Hasan, Ilyas. 2007. Terjemah The Islamic Dynasties. Bandung: Mizan.
Idrus ‘Alaydrus, Muhammad. 2004. Miftâh ar-Rahmân. Cet. I. Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyah.
Irfan M, Zakkie. 2009. Terjemah The Arab World: Society, Culture, and State, Bandung: Nusa Media.
Ismuha. 1983. Agama dan Perubahan Sosial. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Iyazi, Muhammad Ali. 1414 H. Al-Mufassirun Hayatuhum wa Manhajuhum. Cet I. Teheran: Wizarah al-Tsaqafah wa al-Insyaq al-Islam.
Liliweri, Alo. 2014. Sosiologi & Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Madjid, Nurcholish.1997. Masyarakat Religius. Cet. I. Jakarta: Paramadina.
Millah, Mus’idul. Warna-warni Islam Potret Keragaman Umat Islam di Seluruh Dunia. Yogyakarta: Qudsi Media.
Mulyana, Deddy. 2005. Nuansa-nuansa Komunikasi. Cet. III. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Al-Marâghî, Ahmad Musthafâ. Tafsîr Al-Marâghî. Mesir: Musthafâ al-Babil-Halabi. Juz 2, 10, 16 & 30.
Natsir M, 1973. Capita Selecta. Cet. III. Jakarta: Bulan Bintang.
Nugroho, Adi Baskoro. 2010. Hubungan Sosial Kyai dengan Santri Mukim Dan Santri Kalong Di Pondok Pesantren Al-Muthi`in Maguwo Banguntapan Bantul Yogyakarta Yogyakarta. Skripsi pada program strata 1 Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Al-Qardlâwi, Yusuf. Kaifa Nata ‘ammal ma’a at-Turâts wa at-Tamazdhab wal-Ikhtilâf. Diterjemahkan oleh Fathurrahman, Ahrul Tsani, dkk. 2001. Menjadi Bagaimana Berinteraksi Dengan Peninggalan Ulama Salaf. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Qomar, Mujamil. Pesantren dari Transformasi Metodologi Menuju Demikratisasi Institusi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Riswanto, Aris Munandar, dkk. 2010. Ensiklopedi Sejarah Islam. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Jilid 3.
Saleh, Syukri Ahmad. 2007. Metodologi Tafsir Al-Qurân Kontemporer Dalam Pandangan Fazlur Rahman. Jakarta: Ciputat, Sulthan Thaha Press: Jambi, Gaung Persada Press.
Setiawanto, Tikno R. 2003. Peranan Kyai Dalam Masyarakat Tradisional Yogyakarta. Skripsi pada program strata 1 Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Shihab, Quraish. 1994. Membumikan Al-Qurân. Bandung: Mizan.
Siradj, ‘Aqiel. Terjemah Nazham Matan Binâ`. Cirebon: Majlis Tarbiyatul Mubtadi-îen Kempek.
Trisnawanti, Diana. 2013. Revolusi Mesir 23 Juli 1952: Berakhirnya Pemerintahan Raja Farouk. Ringkasan Skripsi pada program strata 1 Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2019 Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work