Peran Konselor terhadap Anak Broken Home: Analisis Dampak

Authors

  • Fanny Septiany Rahayu Universitas Muhammadiyah Cirebon
  • Nurkholis Nurkholis Universitas Muhammadiyah Cirebon

DOI:

https://doi.org/10.24235/prophetic.v7i2.19437

Keywords:

Broken Home, Layanan Bimbingan dan Konseling, Konselor.

Abstract

Broken home diartikan sebagai kondisi keluarga yang itdak serasi dan tidak berfungsi sebagai mana semestinya karena sering terjadi perselisihan yang berujung pada perrpisahan atau perceraian. Anak-anak yang broken home tidak hanya anak-anak yang berasal dari perceraian orang tua, tetapi juga anak-anak yang berasal dari keluarga yang tidak utuh atau tidak harmonis. Banyak faktor yang melatarbelakangi broken home, termasuk pertengkaran orang tua, perceraian, dan kesibukan orang tua sehingga memunculkan dampak broken home terhadap psikologis anak antara lain yaitu anak-anak mulai menderita kecemasan dan ketakutan yang tinggi. anak-anak merasa terjepit di tengah, karena harus memilih antara ibu atau ayah, anak sering memiliki rasa bersalah dan memungkinkan anak-anak dapat membenci salah satu orang tua mereka. Salah satu upaya yang dapat dilakukan Konselor untuk mengatasi keluarga broken home adalah konselor dapat melaukukan konseling keluarga yaitu terdiri dari interaksi antar keluarga, kontrak awal sebelum melakukan konseling. Hal ini bertujuan untuk membantu keluarga berkomunikasi pada sesi awal, serta meningkatakan kesadaran dan dinamika keluarga, memadukan konseling individual dengan kerja keluarga keseluruhan. Konseling keluarga juga melibatkan seluruh anggota keluarga.

Author Biographies

  • Fanny Septiany Rahayu, Universitas Muhammadiyah Cirebon
    Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
  • Nurkholis Nurkholis, Universitas Muhammadiyah Cirebon
    Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

References

Alwisol. (2008). Psikologi Kepribadian Edisi Revisi. UMM Press: Malang.

Baseline Survey [online] diakses di http://sbm.gov.in/BLS2012/Home.aspx pada tanggal 30 maret 2015.

Branden, Nathaniel. (1992). The Power of Self Esteem. Florida, USA: Health Communication, Inc. Deerfield Beach.

--------- (1994). The Six Pillar of Self-Esteem. New York: Bantam Book Publishing History.

Brown, J.D., Collins, R.L., & Schmidt. (1988). Self-Esteem and Direct Versus Inderect Forms of Self-Enhancement. Journal of Personality and Social Psychology. 55(3). 445-453.

Clemes, Harris, dan Reynold Bean. (1995). Bagaimana Kita Meningkatkan Harga Diri Anak. Bandung: Bina Rupa Aksara.

Cloninger, Susan C. (2004). Theories of Personality: Understanding Persons (Fourt Edition). New Jersey: Pearson Perntice Hall.

Domenico, Desirae M. & Jones, Karen H. (2007). Adolescent Pregnancy in America. The Journal: for Vocational Special Needs Education. Volume. 30, Number 1, Fall 2007, hlm. 5-12.

Feist, Jess & J. Feist Gregory. (2008). Theories of Personality. (Terjemahan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Guindon, M.H. (2010). Assesment and Diagnosis: Toward Accountability in the Use of The Self Esteem Construct. Journal of Counseling & Development. (v)(2), 204-214.

Kusumaningtyas AD. (2013). Maraknya Kehamilan Remaja: Salah siapa? Fokus SR Edisi 43 [online]. Diakses di: http://www.rahima.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1127:maraknya-kehamilan-remaja-salah-siapa-fokus-sr-edisi-43&catid=32:fokus-suara-rahima&Itemid=47 [23 Maret 2015].

Palmer, Stephen.(2011). Konseling dan Psikoterapi. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Belajar.

Prayitno. (2004). Pengembangan Kompetensi dan Kebiasaan Siswa Melalui Pelayanan Konseling. Padang: Jurusan Bimbingan dan Konseling FIP Universitas Negeri Padang.

Rosenberg, M. (1980). Concelving The Self. New York: Basic Books.

Downloads

Issue

Section

Articles