Reorienting the Search for Happiness: Plato, Eudaimonia, and the Limits of Material Fulfillment Reorientasi Pencarian Kebahagiaan: Plato, Eudaimonia, dan Batas Pemenuhan Material

Main Article Content

Fathiya Sekar Utami Dewi
Ni Putu Indah Cahya Prihatina

Abstract

ABSTRACT: Happiness remains one of the most widely desired yet persistently misunderstood human aspirations. In modern life, many individuals continue to seek happiness through wealth, possessions, status, and achievement, even though such pursuits often fail to provide enduring fulfillment. This article examines that paradox by placing Plato’s concept of eudaimonia in dialogue with contemporary research on well-being, gratitude, mindfulness, and meaningful relationships. Using a qualitative interpretive literature review, the study analyzes Plato’s Republic alongside major philosophical and psychological scholarship on flourishing and subjective well-being. The review suggests that the repeated search for happiness is sustained by a misidentification of external goods as ends rather than means, by hedonic adaptation, and by the neglect of inner formation and relational depth. Plato remains valuable because he redirects attention from pleasure and possession toward virtue, psychic order, and the rational orientation of life toward the good. Contemporary psychology deepens this perspective by showing that gratitude, mindfulness, and meaningful social bonds play a central role in sustaining durable well-being. The article argues that true happiness is best understood as a reflective, relational, and ethically guided form of flourishing rather than as the accumulation of pleasurable experiences or material success.
Keyword: Eudaimonia; Gratitude; Happiness; Mindfulness; Plato.

ABSTRAK: Kebahagiaan merupakan salah satu tujuan hidup yang paling diinginkan, namun sekaligus paling sering disalahpahami. Dalam kehidupan modern, banyak individu masih mencari kebahagiaan melalui kekayaan, kepemilikan, status, dan pencapaian, meskipun upaya tersebut sering kali tidak menghasilkan pemenuhan yang bertahan lama. Artikel ini mengkaji paradoks tersebut dengan menempatkan konsep eudaimonia dari Plato dalam dialog dengan penelitian kontemporer mengenai kesejahteraan, rasa syukur, mindfulness, dan relasi yang bermakna. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui tinjauan pustaka interpretatif dengan menganalisis karya Republic karya Plato serta literatur filsafat dan psikologi utama terkait flourishing dan kesejahteraan subjektif. Hasil kajian menunjukkan bahwa pencarian kebahagiaan yang berulang dipertahankan oleh kesalahan dalam mengidentifikasi hal-hal eksternal sebagai tujuan akhir, bukan sebagai sarana, oleh fenomena adaptasi hedonik, serta oleh pengabaian terhadap pembentukan batin dan kedalaman relasi. Pemikiran Plato tetap relevan karena mengarahkan kembali perhatian dari kesenangan dan kepemilikan menuju kebajikan, keteraturan jiwa, dan orientasi rasional kehidupan menuju kebaikan. Psikologi kontemporer memperkaya perspektif ini dengan menunjukkan bahwa rasa syukur, mindfulness, dan hubungan sosial yang bermakna berperan penting dalam menopang kesejahteraan yang berkelanjutan. Artikel ini berargumen bahwa kebahagiaan sejati lebih tepat dipahami sebagai bentuk flourishing yang reflektif, relasional, dan berlandaskan etika, bukan sebagai akumulasi pengalaman menyenangkan atau keberhasilan material.
Kata Kunci: Eudaimonia, Rasa syukur, Kebahagiaan, Mindfulness, Plato.

Article Details

Section

ARTICLES

How to Cite

Dewi, Fathiya Sekar Utami, and Ni Putu Indah Cahya Prihatina, trans. 2026. “Reorienting the Search for Happiness: Plato, Eudaimonia, and the Limits of Material Fulfillment: Reorientasi Pencarian Kebahagiaan: Plato, Eudaimonia, Dan Batas Pemenuhan Material”. JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama Dan Kemanusiaan 12 (1): 25-49. https://doi.org/10.24235/1hhbe597.