Normalisasi Victim Blaming melalui Narasi Salah Pakaian dalam Kasus Pelecehan Seksual: Analisis Feminisme Radikal The Normalization of Victim Blaming through Clothing-Based Narratives in Sexual Harassment Cases: A Radical Feminist Analysis
Main Article Content
Abstract
ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan menganalisis narasi “salah pakaian” sebagai praktik victim blaming dalam kasus pelecehan seksual serta mekanisme normalisasi wacana tersebut dalam masyarakat Indonesia. Subjek penelitian terdiri dari sepuluh informan yang dipilih melalui purposive sampling berdasarkan pengalaman mereka terkait interaksi sosial yang mengandung unsur penyalahkan korban. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan untuk memahami pengalaman dan pemaknaan informan, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan analisis wacana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi salah pakaian berfungsi sebagai alat sosial yang menempatkan perempuan sebagai pihak bertanggung jawab atas kekerasan yang dialami, sementara pelaku luput dari sorotan. Pemaknaan pakaian sebagai indikator moralitas perempuan memperkuat kontrol patriarki dan reproduksi norma sosial yang menormalisasi victim blaming. Narasi ini terus diperkuat melalui percakapan sehari-hari, media, dan transmisi lintas generasi sehingga pengalaman individual diubah menjadi kebenaran umum. Perspektif feminisme radikal menegaskan bahwa victim blaming adalah mekanisme struktural yang mempertahankan dominasi laki-laki dengan menekankan tanggung jawab pencegahan kekerasan sepenuhnya pada perempuan. Temuan ini menekankan perlunya intervensi sosial, pendidikan publik, dan kebijakan berbasis kesadaran gender untuk mengubah pola pikir masyarakat, memfokuskan penegakan keadilan pada pelaku, dan melindungi korban dari stigma sosial.
Kata Kunci: Victim blaming; Pelecehan seksual; Pakaian; Feminisme radikal.
ABSTRACT: This study aims to analyze the narrative of “wrong clothing” as a form of victim
blaming in sexual harassment cases and the mechanism of its normalization within Indonesian society. The study involved ten informants selected through purposive sampling based on their experience with social interactions containing elements of victim blaming. A qualitative descriptive approach was employed to explore informants’ experiences and interpretations, with data collected through in-depth interviews and analyzed using discourse analysis. Findings indicate that the “wrong clothing” narrative functions as a social tool that positions women as responsible for the violence they experience, while perpetrators remain unnoticed. Clothing is interpreted as a moral indicator, reinforcing patriarchal control and normalizing victim blaming through everyday conversations, media representations, and intergenerational transmission, converting individual experiences into generalized truths. Radical feminist perspectives highlight that victim blaming operates as a structural mechanism sustaining male dominance by placing the burden of preventing violence solely on women. The study underscores the importance of social interventions, public education, and gender-sensitive policies to shift societal mindset, focus justice enforcement on perpetrators, and protect victims from social stigma.
Keywords: Victim blaming; Sexual harassment; Clothing; Radical feminis.
Article Details
Issue
Section

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).