Habitus Maskulin di Fakultas Teknik: Negosiasi Gender Mahasiswa dalam Field Akademik Surabaya Masculine Habitus in the Faculty of Engineering: Students' Gender Negotiation within the Academic Field in Surabaya

Main Article Content

KEYLANA KEYLANA EDHITA NANDA
Ahmad Ridwan
Arief Sudrajat

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana mahasiswa dan mahasiswi fakultas teknik memaknai budaya maskulinitas dalam lingkungan akademik teknik, serta menelaah bagaimana habitus maskulin terbentuk, direproduksi, atau dinegosiasikan melalui praktik sosial sehari hari. Subjek penelitian terdiri dari mahasiswa dan mahasiswi fakultas teknik dari beberapa perguruan tinggi di Surabaya dengan jumlah enam hingga sepuluh orang yang dipilih melalui purposive dan snowball sampling. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam dan dokumentasi, serta dianalisis menggunakan analisis tematik yang diinterpretasikan melalui konsep habitus, field, capital, dan doxa Pierre Bourdieu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa maskulinitas menjadi norma dominan dalam budaya akademik teknik yang mempengaruhi pola interaksi, kepemimpinan, penilaian sosial, dan relasi kuasa dalam kelas serta organisasi mahasiswa. Maskulinitas dipahami sebagai sifat tegas, mampu mengambil keputusan cepat, dan tahan terhadap tekanan sehingga menjadi basis symbolic capital yang dihargai dalam field teknik. Mahasiswa perempuan melakukan strategi adaptasi sekaligus resistensi halus terhadap norma maskulin, sementara mahasiswa laki laki menampilkan identitas gender yang situasional. Penelitian ini merekomendasikan perlunya evaluasi terhadap praktik kaderisasi dan penguatan sistem akademik yang lebih sensitif gender. Temuan penelitian diharapkan dapat memperkaya kajian gender dalam pendidikan tinggi teknik di Indonesia.
Kata Kunci: Maskulinitas; Habitus; Teknik; Gender.


ABSTRACT: This research aims to examine how male and female engineering students interpret the culture of masculinity within technical academic environments and to analyze how masculine habitus is formed, reproduced, or negotiated through everyday social practices. The study involved six to ten engineering students from several universities in Surabaya, selected through purposive and snowball sampling. This research employed an interpretive qualitative approach using in depth interviews and documentation, and the data were analyzed through thematic analysis informed by Pierre Bourdieu’s concepts of habitus, field, capital, and doxa. The findings indicate that masculinity operates as a dominant norm that shapes interaction patterns, leadership expectations, social valuation, and power relations within classes and student organizations. Masculinity is perceived as decisiveness, assertiveness, and emotional endurance, functioning as symbolic capital that influences academic recognition. Female students adapt by selectively adopting masculine traits while maintaining certain expressions of femininity, whereas male students display situational gender identities shaped by peer interactions and academic pressures. The study recommends strengthening gender sensitive academic structures and reevaluating harsh initiation practices that contribute to symbolic violence. These findings contribute to gender studies in engineering education in Indonesia and highlight the complex dynamics of masculinity within technical fields.


Keywords: Masculinity; Habitus; Engineering; Gender.

Article Details

Section

Articles